Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Prov. Kep. Bangka Belitung

TAMAN BACA MASYARAKAT DI MALL

 

 

 

 

 


Salah satu kewajiban kita sebagai Warga Negara Indonesia untuk turut serta memajukan bangsa ini adalah dengan taat membayar pajak. Sebagaimana diketahui bahwa salah satu sumber pendapatan terbesar negara adalah pajak. Kebetulan beberapa waktu yang lalu, selaku warga negara yang taat pajak, saya menyempatkan diri untuk membayar pajak kendaraan bermotor. Tak dipungkiri animo masyarakat untuk turut serta membangun negara dalam bentuk membayar pajak lumayan tinggi. Terlihat dari antrian para wajib pajak dan saya untuk mendapatkan layanan dari pihak terkait pada BTC yang ada di Pangkalpinang.
Sebagai bentuk apresiasi pemerintah atas peran serta masyarakat dalam proses pembangunan, ada baiknya “simbiosis mutualisme” diberlakukan. Karena ada beberapa proses yang diperlukan untuk melakukan layanan pajak, maka ada jeda waktu terluang yang sayang kalau tidak dimanfaatkan dengan hal positif. Karena bosan akan segera menghinggapi diri. Takutnya kesan negatif akan semakin menguat atas citra pelayanan abdi masyarakat di negeri ini. Iya, bagi yang memiliki gadget berupa handphone, mereka bisa mengalihkan waktu terluang dengan aktivitas yang lain, seperti bermedia sosial, mendengarkan musik, bermain games, menelpon, mencari berita, sekedar browsing berinternet atau aktivitas lainnya. Tetapi bagaimana bila yang hadir adalah masyarakat yang tidak memiliki gadget serupa?
Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar1945, dimana dalam pembukaannya tertera kalimat “mencerdaskan anak bangsa” ada baiknya pemerintah juga menyediakan taman bacaan disana. Ditambah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan pada Bab XIII pasal 48 ayat 4 tertulis “pembudayaan kegemaran membaca pada masyarakat sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) dilakukan melalui penyediaan sarana perpustakaan di tempat-tempat umum yang mudah dijangkau, murah, dan bermutu”. Ayat (1) pada pasal ini tertulis “pembudayaan kegemaran membaca dilakukan melalui keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat.” Pada penjelasan berikutnya perihal ayat ini dijelaskan bahwa pembudayaan kegemaran membaca pada masyarakat, meliputi gerakan buku murah, penerjemahan, penerbitan buku berkualitas, dan penyediaan sarana perpustakaan di tempat-tempat umum (kantor, ruang tunggu, terminal, bandara, rumah sakit, pasar, mall.).
Menilik salah satu pasal ini nyatalah bahwa sarana perpustakaan harus juga diselenggarakan di tempat-tempat umum. Bahkan disini 3 (tiga) lokasi yang sudah memenuhi persyaratan tersebut karena loket pembayaran pajak kendaraan (kantor) terletak di Bangka Trade Centre (pasar dan mall). Maka tidaklah berlebihan jika sarana perpustakaan juga diupayakan hadir di lokasi tersebut
Karena tidak semua orang yang pergi ke sebuah mall atau pasar untuk berbelanja. Seperti saya yang kebetulan pergi ke mall atau BTC ini untuk membayar pajak. Pastinya ada juga masyarakat yang meluangkan waktu hanya untuk sekedar jalan-jalan menikmati udara dingin yang dihadirkan oleh pihak pengembang (BTC). Atau hanya untuk “nongkrong”, hingga menemani istri ataupun pacar untuk berbelanja. Walaupun memang di mall atau pasar selalu terpajang berbagai barang untuk dijual. Maka layaklah tempat seperti mall ini disediakan perpustakaan. Seperti yang pernah digaungkan pemerintah yaitu Taman Bacaan Masyarakat di Mall atau lebih dikenal dengan TBM@Mall.
Program ini telah digulirkan pemerintah pada tahun 2010 silam. Ditandai dengan peresmiannya oleh Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh pada tanggal 2 Mei 2010 di Plaza Semanggi, bersamaan dengan diresmikannya TBM@Mall di Carrefour Serang yang diresmikan pula oleh Gubernurnya pada waktu itu yaitu Ratu Atut Chosiyah. Disusul peresmian TBM@Mall lainnya seperti di Surabaya, Istana Plaza Bandung, Mal Karebosi Makassar, dan Mal di Mataram.
TBM@Mall akan menjadi salah satu lokasi “menunggu” strategis bagi orang-orang yang diamanati “menjaga” seseorang baik itu anak-anak maupun saudara lainnya. Atau karena kelelahan dalam mencari sesuatu yang sangat diinginkan. Karena dapat dimaklumi BTC tidak menyediakan tempat istirahat itu kecuali di lokasi dimana aneka kuliner disajikan. Mana mungkin kita duduk disana tanpa harus membeli sesuatu. Sekedar teh hangat ataupun teh botol, lagi-lagi kesan konsumerisme pada suatu mall menguat. Tentunya TBM@Mall akan menjadi pilihan tepat bagi mereka penghobi tulisan karena tersedianya berbagai fasilitas untuk itu. Hingga mereka betah berlama-lama disana sembari menunggu kekasihnya, atau istrinya selesai berbelanja. Dan lagi yang paling disenangi semua orang adalah disini tidak dipungut biaya alias gratis.
Bayangkan bila TBM@Mall dapat diwujudkan di BTC Pangkalpinang ini, masyarakat yang mengantri menunggu proses antrian pelunasan pajaknya dapat mengalihkan waktu senggangnya ke hal positif yaitu membaca. Para bapak yang menemani istrinya berbelanja jika merasa letih bisa beristirahat di sana. Bila diamanahi untuk menjaga anak-anaknya dapat diarahkan ke TBM@Mall ini sehingga anak-anak dapat bersahabat dengan buku dari kecil. Dengan begini, tak ada lagi alasan masyarakat untuk tidak meningkatkan intensitas membaca. Sehingga anak bangsa semakin cerdas seperti yang tertera pada Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dapat segera terwujud.

Daftar pustaka
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan
http://www.rumahdunia.org/index.php/news-18/40-lintas-komunitas/517-tentang-tbmmall-dan-komunitas diakses 31 Mei 2017 pukul 11:26 WIB
http://nasional.kompas.com/read/2010/05/03/1057279/Memanjakan.Urusan.Paling.Pokok diakses 31 Mei 2017 pukul 11:50 WIB.
https://tbmcito.wordpress.com/2010/06/15/peresmian-tbmmall-di-cito-surabaya/ diakses 2 Juni 2017 pukul 10:27 WIB.
https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Gubernur_Banten diakses 2 Juni 2017 pukul 14:56 WIB.

 

 

 

Anda disini: Beranda | Perpustakaan | Artikel | TAMAN BACA MASYARAKAT DI MALL